16 Juli 2018, di Sekolah
Aku kembali teringat semua ketika kembali disini, sejenak merasakan kembali berada dimasa itu. Cinta umur enam belas tahun bersemi saat pohon-pohon karet berguguran, dan merayakan sweet seventen bersama. Tidak ada yang tidak aku suka terhadap hal yang pernah terjadi disini, entah sebagai murid atau sebagai orang yang bersemangat menjemputmu ketika pergi sekolah. Ada begitu banyak saksi atas semua yang telah berlalu, entah jalan menuju sekolah, entah bangunan-bangunan tua disini, atau kantin yang sempat menjadi tempatku makan bayarnya besok.
Aku kembali teringat semua ketika kembali disini, sejenak merasakan kembali berada dimasa itu. Cinta umur enam belas tahun bersemi saat pohon-pohon karet berguguran, dan merayakan sweet seventen bersama. Tidak ada yang tidak aku suka terhadap hal yang pernah terjadi disini, entah sebagai murid atau sebagai orang yang bersemangat menjemputmu ketika pergi sekolah. Ada begitu banyak saksi atas semua yang telah berlalu, entah jalan menuju sekolah, entah bangunan-bangunan tua disini, atau kantin yang sempat menjadi tempatku makan bayarnya besok.
Aku sangat berterima kasih pada semua orang yang dulu pernah ada disini, walau bagaimanapun kalian tetap berpengaruh dalam hidupku. Walau bagaimanapun kalian adalah kawan-kawanku, lebih dari itu kalian bukan sekedar kawan.
Terlebih terima kasih untuk Ibu Mety dan suaminya yang begitu antusias menjadi saksi atas masa lalu ku saat masih bersama Ade, aku tidak tahu pikiran kalian saat ku beri tahu bahwa kami sudah lama tidak bersama lagi. Mengingat kalian orang yang banyak aku ceritakan tentang kisah kami, dan sesekali bertemu kami dijalan ketika pulang sekolah. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya, aku sayang kalian.
Dan disini aku hanya bisa berdoa untuk kalian, sehat terus Ibu Mety dan Bapak, panjang umur. Tetaplah bahagia. Aku ingin kelak anak-anak ku punya guru seperti beliau dan orang yang hangat seperti Bapak.
Sepulang dari sekolah, siang itu adalah perjalanan menembus udara yang panas bersama motorku. Pikiran yang berkaitan dengan masa lalu ku disaat masih bersama Ade, bergegas masuk ke dalam kepalaku. Tetapi aku merasa diriku tidak dapat memberi tahu apa yang harus aku lakukan dalam keadaan seperti ini. Kita sudah melalui banyak hal bersama-sama, tidak bisa mengatakannya dengan tepat bagaimana sesungguhnya perasaanku saat itu.
Dan sekarang, hai Ade, dimana pun kau berada.
"Dulu, ada banyak hari ketika kita berharap bahwa kita akan selalu bersama-sama, karena kita merasa kita adalah orang yang akan saling membuat bahagia. Dulu, aku merasa, aku akan selamanya denganmu ketika ketawa bersama-sama."
Ade, dimana pun kau berada.
"Dulu, segala sesuatu tampak indah. Sama sekali tidak pernah terpikir bahwa akhirnya kita harus berpisah. Aku tahu bukan itu yang kita harapkan, tapi itu adalah kenyataan. Aku hanya berpikir betapa beruntungnya aku telah mengenal dirimu. Betapa beruntungnya aku pernah bersama Made Anom Dewayu."
Prioritas pertamaku sekarang adalah mengembalikan air mata yang dititipkan dipipiku malam ini.
Terima kasih Ade. Terima kasih dulu kau pernah mau.
Komentar
Posting Komentar